<$BlogRSDURL$>
Me and Fam
Thursday, June 17, 2004
 
Masuk Sekolah
Ya... Difa bentar lagi masuk sekolah. itulah celotehnya setelah dia mendaftar ulang di Taman Bermain Istiqomah. sepertinya seneng banget deh dia. insya Allah dia masuk awal bulan besok Juli. konon dia minta diantar ke sekolah oleh Ayahnya, kalo ga katanya dia ga mau masuk sekolah hehehehe... ya udah ntar ayah antar tiap hari sebelum ke kantor ok. "ok deh Ayahku sayang," ujarnya manja.
Monday, February 09, 2004
 
Si Kolor Ijo

Sejak merebak isu 'si kolor ijo' yang meresahkan masyarakat itu rupanya bikin Difa tergelitik untuk menanyakan makhluk misterius tersebut. Awalnya saya dan istri tidak menyangka kalau dia pun menaruh perhatian terhadap isu murahan yang bikin bulu kuduk merinding. Ketika itu, Itut, pamanya sedang membicarakan ulah kolor ijo yang konon sudah masuk kawasan Ciputat. Kebetulan si kolor ijo itu beraksi persis di depan rumah bibinya di daerah Bukit Sarua Ciputat. (mungkin anda sudah mendengar kabar si kolor ijo beraksi di daerah tersebut, red). Tapi faktanya si korban itu ternyata bohong belaka.

Pembicaraan kolor ijo itu di dengar oleh Difa, dan tiba-tiba dia menanyakan hal itu pada saya. "Yah, kolol ido (kolor ijo, red), itu siapa sih yah? tuh oom Itut pake kolol ido?" katanya enteng.
Kontan saja yang mendengar pun tertawa terbahak-bahak. "Makanya jangan suka nguping," kata Itut.
"Ngga kok, kan Ifa juga tahu kolol ijo itu siapa," jawabnya ga mau kalah.
"Waduh nak, nak, kamu ini ada-ada aja siih! emang kamu tahu kolor ijo?" tanyaku.
"Tau, kolol ijo ya, celana ijo, kaya yang dipake oom Itut," jawabnya enteng.

Wednesday, February 04, 2004
 
Pocong Mumun

Pagi ini Difa terlihat uring-uringan. Konon bunda bilang dia lagi ngambek, gara-gara ga diberi uang buat naek becak ayam (semacam becak yang dihiasi dengan kepala ayam/burung). Akhirnya sepanjang hari dia terus uring-uringan. Tak ayal lagi bunda menjadi super sibuk meladeni dia kemanapun pergi. "Abis bunda sih, Difa kan pengen naek becak ayam kok ga boleh," celetuknya kepada saya sore itu.

Malamnya, Difa bercerita kekesalannya atas bundanya. Dia bilang kalo bunda sudah tak sayang lagi. "Biarin kalo bunda ga sayang, kan masih ada ayah, ya kan Yah?" ujarnya dengan mencoba membuang dari tatapan bunda.

Bunda hanya tersenyum. Begitupun saya. Menjelang tidur, seperti biasa Difa selalu merengek minta susu. "Yah, bikin susu dong," dengan memelas.

Setelah susu tersedia, Difa mulai nyerocos lagi, kini dia bertanya kepada saya tentang 'pocong'. Pasalnya kemarin sehari sebelumnya, saya ajak melayat salah satu keluarga dari pembatu yang meninggal. Dia melihat jenazah itu sedang dimandikan hingga dikafani. Saat itu dia ngomong "Yah, mbahnya kok dibungkus kaya pocong yah?" katanya ingin tahu.

Saya pun balik bertanya "Emang Ifa tahu apa itu pocong?" tanyaku.
Difa pun menjawab,"Iya, itu orang yang dibungkus pake kain putih, kaya pocong mumun yang di tivi tu yah," jawabnya.
"Wah, banyak nonton tivi nih, gawat, bisa berabe nih," gumanku.

Tiba-tiba, Difa bilang kepada saya, kalo mbahnya mbak Par (pembantu, red) kini sudah jadi pocong mumun. "Yah, tidur yu, ntar didatengin pocong mumun lho," ujarnya sambil menutup wajahnya dengan bantal.

Friday, January 30, 2004
 
Protes ala Difa

Kehadiran Naila, 16 Desember 2003 yang lalu telah menambah keceriaan segenap keluarga, tak terkecuali Difa, putri pertama. Hampir setiap orang yang ingin memegang si kecil, Difa marah dan ngambek, pendek kata siapapun tidak boleh mendekatnya. Namun ditengah ceriaannya itu, timbul rasa iri terhadap sang adik. Ya wajar saja biasanya dia terus yang diperhatikan kini perhatian terbelah dua.

Suatu hari Difa protes minta perhatian lebih dari ayah bundanya. Well, akhirnya kami berbagi tugas ayah memilih pegang Difa dan bunda otomatis milih Naila ---khan nenennya ada di dia, jadi kalo nangis atau pengen nenen tinggal hup aja dah. Pembagian tugas ini berjalan lancar. Anehnya Difa yang tadinya selalu protes jika dipegang orang lain (selain ayah bunda dan neneknya) berbalik 180 derajat. Katanya ini bentuk protes terakhirnya. Protes ini diwujudkan dengan seringnya memukul ataupun menarik-narik tangan, kaki sang adik. Nah, kami sekeluarga kelimpungan mengatasinya. Akhirnya ide muncul untuk mengatasi.
"Kakak, kalo nakalin adeknya mulu, dedenya buat Bu Lilis aja ya?" ujar bunda.
"Ayo, Yah telpon Bu Lilisnya,"
Trik ini rupanya cukup manjur juga, dan Difa pun tidak meneruskan sikap usilnya terhadap adiknya.
"Iya deh ngga, ngga bun, Ifa cuma gemes aja kok," jawabnya sambil sedikit mundur

Rupanya, trik ini tidak bisa bertahan lama, (mungkin Difa memutar otaknya kali ya) :)
Saat ucapan itu dilontarkan baik oleh nenek, bunda maupun ayah, Difa balik menjawab "Ya udah telepon aja, ndak apa-apa kok,"
"Lho kok gitu, bener neh?" kata bunda
"Biarin aja, Ndak apa-apa kok, ntar kan dedenya keluar lagi dari perut bunda," selorohnya enteng.
Bunda pun jadi bengong????

Wednesday, January 28, 2004
 
Kuburan Orang Pelit

Suatu hari Difa (panggilan kesayangan Nazhifa Nabila Qonita putri pertamaku) merengek-rengek meminta jajan es krim. Namun Bunda tidak mengabulkannya, hal ini dikarenakan Difa sedang sakit flu.

Kontan saja Difa ngambek, (biasanya kalo lagi ngambek dia diam seribu bahasa dan terus merunduk). Bunda menghiburnya, tak ketinggalan Saya ikut menggodanya. Hasilnya tetap nihil, dia kekeh minta es krim. Ntah kenapa saat Saya tawarkan mengajaknya jalan-jalan ke Alfa (toko rabat/swalayan yang jadi favoritnya Difa) langsung menjawab “Ikut dong, Yah,” ucapnya sambil menyembulkan senyum yang dipaksakan.
“Tapi jangan minta beli es krim ya. Kita naek mainan aja disana,” jawabku.
“Iya ga apa-apa, yu kita berdua aja, bunda ga ucah diajak ya,” cerocosnya.
“Bun, Ayah ga pelit, biarin lo, kalo pelit nanti kuburannya sempit,” katanya.
“Orang….. pelit kuburannya sempit……,” diulangnya kata-kata itu.

 
Nazhifa Nabila Qonita

Putri pertamaku kini berusia 2 tahun. Ya sedang lucu-lucunya. Suatu hari ditanya oleh tetangga siapa namanya. Lantas dia menjawab dengan lugu “Difa”
“Kok, pendek amat namanya?” tetanggaku nanya lagi.
“Oooo, nama panjang saya Nazhifa Nabila Qonita,” ujarnya sambil melenggak-lenggokan kepala.
“Wah, apa tuh artinya?” kata tetanggaku yang ceriwis itu.
“Kata ayah, Nazhifa artinya bersih, Nabila artinya pintar dan Qonita itu apa yaaa,” jawab Difa sambil menoleh ke arah Bundanya.
“Qonita itu artinya nurut, patuh dan teguh pada pendirian,” jawab Bunda membantu putrinya.

Wednesday, December 10, 2003
 
Kehadirannya di Dunia
Lahir di Cirebon pada Rabu, 28 Juli 1976. Mamak (bapak) menyematkan nama Hayat Fakhrurrozi dengan harapan anaknya akan hidup penuh dengan kecendrungan kepada kebaikan. Disisi lain konon orang tuaku mengharapkan kehadiranku bisa diberi umur panjang dibanding dengan 2 putra sebelumnya (kakakku) yang mendahuluiku menemui Allah, sang Kholik. bersambung..........

Powered by Blogger